Rabu, 01 Oktober 2014

Tahan Dulu Untuk Jatuh Cinta

Pertama melihatmu. Kau sudah membuatku tertarik. Kau terlihat begitu menarik. Kau seperti berbisik, berbisik pada ku untuk menyukaimu. Aku tak perlu tau siapa namamu, melihatmu dari kejauhan saja sudah membuat ku seperti bumi yang tersinar oleh matahari. Mengahangatkan hati ku yang telah lama tak terhangatkan oleh sesosok perempuan yang berbeda sepertimu. Yang aku ketahui, kamu perempuan yang cukup cuek jika didekati lelaki.
Berkenalan denganmu, cukup membuat ku gugup dan takut, aku takut setelah aku berkenalan denganmu dan mendekatimu kau malah menjauh dari ku. Aku memang bukan seorang lelaki idaman wanita yang banyak didekati para wanita. Jadi maafkan jika cara ku menyukaimu tidak seperti laki-laki biasanya.
Berkumpul dengan teman-teman ku. Ya.. itu memang keseharian ku. Tak seru jika sehari tak bertemu dan bermain dengan teman teman ku. Namun juga tak seru dan akan membuat rindu lalu menjadi sendu jika sehari aku tak melihat senyuman manismu. Baru datang ke sekolah saja, aku sudah disuguhi senyumnya. Ya. .meskipun ku tahu senyuman manis itu bukan untuk ku. Namun setidaknya aku tahu bahwa pagi itu juga dia sudah diberi kebahagiaan oleh Allah. Meskipun begitu bukan aku juga yang membuatnya bahagia.
Beberapa hari ku menyukainya, kau selalu membuat rindu di dalam hati ini. Rasanya terus menerus berkembang, padahal aku merasa tak pernah menyirami rasa rindu ku ini. Ataukah aku tak sadar? Aku takut nantinya jika rasa suka dan rindu ini malah berkembang menjadi rasa sayang. Rasa sayang yang tak terbalas, ya mungkin bisa dibilang begitu.
Suatu pagi, baru saja aku bangun, pikiran ku tiba tiba tertuju padanya. Sampai sampai orangtua ku melihat ku yang sedang senyum senyum sendirian dan membuat ku kaget ketika melihat orangtua ku sedang memperhatikan ku. Dan membuat orangtua ku bertanya penasaran, apa yang sedang terjadi, meskipun aku tau orangtua ku pura pura tak tau. Hm.. Seperti tidak pernah merasakan menjadi anak muda saja, ucapku dalam hati. Aku menjawab seadanya saja, kalau aku sedang jatuh cinta. Orangtua ku hanya tertawa.
Lalu memberi nasihat..
Ayah tau, kamu itu anak yang hebat, ayah juga tau kamu itu anak yang kuat. Namun ketahuilah, lelaki itu bisa menangis, menangis karena cinta. Jatuh cinta, memang kata orang-orang itu adalah sesuatu yang bisa membuat orang yang merasakannya jadi bahagia, jadi semangat, merasa hidupnya paling bahagia. Itu saat merasakan cinta. Namun di sisi lain, cinta juga bisa membuat kita jatuh. Kamu akan menjadi seorang yang merasa paling lemah jika sudah tak mendapatkan lagi kasih sayang atau cinta dari orang yang kamu sayang itu. Banyak kan, orang yang pengen bunuh diri karena cinta. Itu namanya alay nak.. Lalu disaat orang yang kamu cinta ternyata tidak mencintaimu? Apa kamu mau terus mencintai dia? Lebih baik kamu fokus pada belajarmu sekarang ini. Urusan perempuan nanti saja. Kamu pasti akan merasakannya nanti, pasti! Sekarang kamu kejar dulu mimpimu. Jika kamu sukses, pasti banyak kok yang melirik kamu. Mungkin salah satunya orang yang kamu suka itu. Jadikan dia motivasi yang bisa bikin kamu semangat belajar. Tapi bukan berarti kamu harus pacaran sama dia, kalo diputusin bisa bisa malah bikin ngedrop apa apanya dalam diri kamu. Banyakkan tuh yang putus sama pacarnya jadi ga mau makan. Nyiksa diri sendiri. Yang repot orangtua lagi, dia yang bikin kamu ngedrop kan cuek aja.
Dan kalo tiba tiba dia ada yang punya? Perjalanan masih panjang kan? Kalo dia udah dapetin yang lain. Ya.., mungkin dia bukan yang terbaik buat kamu. Dan kamu bakal dapet yang terbaik lebih dari dia. Pokonya kejar dulu semua impian dan cita-citamu dulu.
Cerpen Karangan: Sopianti Rahayu

Minggu, 28 September 2014

Rindu Sahabat

Dear Diary..
Waktu begitu cepat berlalu, kenapa begitu cepat sahabat terbaiku pergi?
Apakah ini nasibku? aku harus berdiam diri di kamarku?
Kenapa aku selalu dilanda musibah? apakah aku punya salah?
Aku berharap suatu saat ada yang akan bisa menggantikannya
Agar aku bisa terus tersenyum
Tertanda:
Chelsea Annisa
Akan kuceritakan kejadian yang sangat menyedihkan itu.
Dua jam sebelum kejadian itu, aku dan sahabatku bernama Arin sedang asyik bermain di taman dekat rumahku, kebetulan 1 minggu ini sedang ada liburan panjang.
“eh Rin.. dorongin dong ayunannya..” ucapku pada Arin
“nih.. yeayy! asyik ya! gantian dong!” balas Arin sambil mendorong ayunan yang sedang kunaiki itu,
“iya seru.. eh iya besok aku main ya k erumah kamu..” ucapku sambil bermain ayunan
“iya.. tapi turun dong aku pengen naik!” balas Arin agak cemberut
“Arin cantik.. jangan cemberut dong! ha ha ya udah nih aku turun..” balasku sambil tertawa
“huh.. dasar cerewet!” kata Arin sambil duduk di ayunan.
“ya sudah aku mau beli ice cream dulu! kamu mau ngga?” tanyaku pada Arin
“ice cream? mau dong.. rasa coklat ya!” balas Arin tersenyum padaku
“haha ya udah deh bye! aku beli ice cream dulu!” ucapku lalu pergi entah kemana.
5 menit kemudian, aku kembali dan memberikan ice cream rasa coklat itu pada Arin “nih! kalau udah selesai makan ice cream kita pulang yuk! sudah sore nih” ucapku sambil memakan ice cream rasa vanilla kesukaanku..
“Chelsea udah belum? aku udah nih pulang yuk..” kata Arin sambil menaiki sepeda miliknya
“udah nih.. yuk pulang! bye Arin…” balasku sambil mengayuh sepeda yang kunaiki.
Sesampai di rumah aku langsung mandi dan memakai baju berwarna pink bergambar hello kitty dan celana jeans, seperti biasa sesudah mandi dan memakai baju aku langsung menonton televisi. kring kring!!! kring kring!! terdengar suara telepon, sepertinya itu Arin “halo! ini siapa ya?” tanyaku dalam telepn itu
“hay Chelsea! aku Arin, kamu mau nggak ikut aku naik bus ke taman bermain?” tanya Arin padaku
“eh maaf aku nggak bisa ikut, aku lagi capek habis mandi tadi, rasanya kakiku kesemutan deh!” balasku langsung menutup telepon tersebut. pasti Arin bertanya mengapa aku nggak mau ikut..
Keesokan harinya..
Matahari sudah terbit, aku mencoba untuk menonton televisi pagi ini. yap, itu memang kebiasaan ku setiap bangun pagi dan sesudah mandi, hanya menonton televisi. aku lihat ada berita kecelakan kemarin sore. tepatnya pukul 16.30, hah? itu kan waktu Arin naik bus ke taman? aku juga melihat ada 1 korban yang tewas karena kecelakaan bus yang menabrak pohon, identitas korban itu mulai terlihat, aku baca namanya.. Arin Syafira Ananda!!! itu Arin? itu benar Arin kan? Arinn… jangan tinggalkan aku!
Dengan cepat kuraih sepedaku dan kukayuh sampai ke rumah Arin ternyata benar! banyak yang melayat disana.. tangisku pun semakin menjadi jadi, aku tidak mau melihat wajah Arin yang membeku, aku pun pulang dengan baju basah karena air mataku terus mengalir.
Itulah cerita menyedihkan yang pernah aku alami.. kehilangan sahabat, aku menyesal tidak mau menerima ajakan Arin waktu itu, Arin adalah sahabat sejatiku! selamanya… walaupun jauh di mata kita dekat di hati..
Cerpen Karangan: Audrey Safira Krisandari

Friendship Never Dies

Hai aku Magdalena. Aku senang sekali bisa bersahabat dengan Euniqe, Edenlya, Maria, Zefanya, Vorenza, dan Agnesia. Mereka sangat baik padaku. Aku bersahabat dengan mereka sejak kelas 1 SD.
Saat pertemuan kelas 1 SD, Vorenza belum ada. Tapi, Aku dan sahabat-sahabat ku yang lainnya mengajaknya untuk saling bersahabat.
Saat duduk di bangku kelas 5 SD, kami banyak sekali pertikaian tapi 2 minggu kemudian kami berbaikan lagi. Malah berjalan-jalan di mall yang berada di daerah Jakarta Utara.
Suka dan duka selalu kita jalani bersama-sama. Saat adikku yang paling kecil meninggal karena penyakit, mereka mensupport aku. Selalu mensupport.
Kejadian lucu yang pernah kami alami adalah ketika kami menganggu anjing labrador besar berwarna hitam yang ada di dekat rumahku. Kami dikejar sama anjing itu sampe-sampe manjat ke pagar rumahku. Dan itu kejadian yang tak pernah kami lupakan.
Saat kelas 6 SD. Kami memutuskan untuk membuat kue bersama. Tapi kami tidak tau sama sekali apa bahan-bahan kue. Jadi kami langsung memasukan saja apa bahan kue yang mainstream di acara televisi.
Setelah selesai membuat kue nya, bukan nya kami panggang tapi malah kami goreng. Memang, ada hasilnya dan rasanya enak. Tapi, setelah itu kami langsung sakit perut dan berebutan untuk ke kamar mandi.
Hahaha kejadian yang lucu kan?
Tapi semuanya berubah saat aku pindah ke Jawa…
Semua itu berubah. Aku tak tega melihat mereka menangis atas kepergianku yang membuat jarak di antara persahabatan kita.
Euniqe, Edenlya, Maria, Zefanya, Vorenza, Tiana.
Aku pasti akan merindukan kalian…
pasti…
Aku akan balik
Dan bertemu kalian lagi.
Andai waktu bisa kuputar. Kita akan bermain bersama lagi, ya?
Cerpen Karangan: Akane Amagawa
Blog: https://galaxy-knight.tumblr.com
Hallo semua! terima kasih ya yang udah baca cerpen saya.
Perkenalkan, nama asli aku Agnetha Magdalena Gunena. Aku sekarang bersekolah di SMP Santa Maria Cirebon. Salah satu murid kelas 8E tahun ini (2013)
Aku itu suka banget online di depan laptop sama gadget, aku juga suka buat cerita fanfiction dengan tokoh anime. Aku suka banget sama anime-anime, tapi bukan berarti kalo aku suka kartun Jepang itu, aku tidak senang sama negara sendiri.
Malah aku bangga sama negara ku ini yang mempunyai banyak tradisi dan budaya. Sekali lagi terima kasih yang udah mau baca cerpen pertama ku ini. Semoga kalian suka ya ! :) ohya kalo mau mampir ke fanfic ku boleh kok kalian buka https://www.fanfiction.net/u/5347983/
Salam,
Agnetha

Dibalik Sapu Tangan Biru

Bulan Juli tahun 2011 Asty berangkat ke Yogyakarta guna untuk melanjutkan kuliah S1. Tiba disana dia disambut hangat oleh sahabatnya Yuni yang juga kuliah s1. Walau berasal dari kota yang jauh yaitu kota Ambon, Asty tidak pernah merasa kesepian, karena dia masih menganggap Yuni sebagai keluarganya sendiri. Bahkan bukan hanya Yuni yang belajar di Jogja, akan tetapi beberapa teman SMAnya dulu juga demikian. Ada Afdal, Nani, Ida, Andi, Anto dan Ide.
Hari kedua Asty diajak Yuni bermalam ke kost nya. Hm.. mereka menghabiskan pertemuan dengan bercanda, cerita masa-masa SMA, serta pengalaman tiba di Jogja dll. Hingga Yuni membuat keputusan untuk bisa bertemu dengan teman-teman yang ada di Jogja. Di sms lah Afdal, Anto, nani, Andi, Ide, dan Ida. Hanya saja yang bisa hadir Anto dan Afdal. Sedangkan Nani, Andi, Ida, dan Ide mereka gak hadir. Asty dan Yuni membuat janji dengan mereka untuk bertemu di Malioboro jam 10 pagi. Bagi Asty inilah pertemuan yang sudah ditunggu-tunggu satu tahun yang lalu. Bahkan sampai malam tiba Asty masih tetap terjaga dalam tidurnya.
Adzan berkumandang dari sebelah kost Yuni.
“Kamu mau kemana?” tanya Yuni pada Asty dengan matanya yang masih sayup.
“Aku mau ke belakang sebentar. Bersih-bersih dan berwudhu.” Jawab Asty dengan wajah yang juga menunjukkan keadaan ngantuk.
“Allahu Akbar…” terdengar suara lembut dan halus yang keluar dari bibir Asty. Yang walaupun hanya terdengan pelan, tapi karena suasana waktu itu sangat adem dan tenang, seakan kencang dengarnya.
“suara apa itu!” bisik Asty dalam hati.
“Yuni! kok aku mendengar suara Iqomah, ini kan masih jam 4 kurang lima menit!.”
“Emangnya tadi kamu sholat apa Asty?” Yuni malah balik bertanya.
“Tahajjud!”
“ya ampun, Asty… Asty…, tadi itu adzan Shubuh. Ini bukan Ambon lagi yang adzan shubuhnya jam 5! Hahaha.”
Mendengar hal tersebut Asty malah ketawa dan merasa malu sendiri. Akhirnya mereka berdua ketawa sedikit terbahAk-bahak. Sampai-sampai tetangga kamar kost Yuni ada yang terbangun.
“hm.. pantas saja kamu malah enakkan tidur! Apalagi karena kamu lagi gak sholat”
Asty jadi agak sebel.
Pagi yang cerah terlihat begitu jelas ketika burung-burung beterbangan di angkasa. Daun-daun yang begitu indah terlihat dari keelokan warna hijaunnya. Tiba saatnya pemberangkatan menuju tempat perjanjian Asty, Yuni dengan Afdal serta Ris. Karena Yuni tidak memiliki kendaraan pribadi, maka mereka mau tidak mau harus naik bus. Manakala saat bus tersebut berjalan, Asty tidak menyangka jalannya yang lambat, penuh sesak para penumpang. Sampai-sampai ada yang berdiri. Untung saja Asty dan Yuni masih bisa dapat tempat duduk. Melihat keadaan dalam bus seperti itu, Yuni hampir tak tahan ketawanya manakala melihat wajah Asty yang agak cemberut.
“As, wajahmu tu senyum sedikit kenapa!”
“emangnya ada apa dengan wajahku Yuni?”
Asty malah balik bertanya.
“Kamu gak sadar, dari tadi tu wajahmu cemberut melulu,” sambil ketawa Yuni mengangkat tangannya dan menunjuk ke arah seorang Ibu yang berada tidak jauh dari tempat duduk mereka berdua.
“Lihat Ibu yang itu. Beliau walaupun tidak dapat tempat duduk, masih sempatkan diri untuk bisa tersenyum. Kamu yang sudah mendapat tempat duduk malah cemberut gitu. Ini bukan Ambon lagi, Sekarang ini, saatnya kita untuk berjuang melawan keras maupun senanngnya hidup yang ada di kota perantuan ini.”
Mendengar penjelasan dari Yuni seakan Asty baru diingatin kembali menganai tujuannya untuk datang ke kota Jogja.
“iya Yun, kamu benar. Seharusnya aku bersabar.”
“ok. Sekarnag bersiaplah kita sudah mau nyampe!”
Setelah turun dari bus, dari arah jauh Yuni dan Asty melihat di depan malioboro sosok seorang pria yang dikenal.
Segera Asty mempersiapkan aksinya.
“ayo kita jalan keseberang sana.” Ajak Yuni saat menunjuk ke arah Anto.
“bentar Yun,” tak salah lagi Asty menyiapkan sarung tangannya berwarna biru dan ditutupi di wajahnya. Seperti masker yang biasa dipakai orang.
Asty sengaja tidak menampakkan wajahnya. Bahkan dia sengaja agar Anto tidak tahu kalau dialah yang di ajak Yuni.
“Hai… Anto!” sapa Yuni yang saat itu mengagetkan Anto.
“Hai kamu, Yuni. Wa… sudah lama kita berada di jogja tapi belum pernah ketemu,”
“iya, kamu ni ya gak pernah ada kabarnya. Untung semalam aku sempat sms untuk bertemu!. Ngomong-ngomong Afdal kemana ya?”
“iya tu belum datang.”
Sambil asyik ngobrol dan mereka pun duduk di bawah pohon rindang.
“ini temanmu?” tanya Anto kepada Yuni yang seketika itu membuat Asty kaget.
“oh iya ma’af aku lupa memperkenalkannya padamu. Ini temanku Shinta.” Betapa kagetnya Asty saat memperkenalkan dirinya. Akan tetapi dia tidak mengeluarkan suara. Dengan pandangan yang aneh Anto terus memandang Asty dari arah sebelah duduknya Yuni. Asty pun demikian. Tanpa tak dipikirkan saat pandangan mereka saling bertemu. Di balik wajah Asty yang tertutup sapu tangan itu, membuat Anto jadi penasaran. Sehingga dalam hati Anto berkata dan merasakan hal yang aneh pada mata gadis yang berada di samping temannya Yuni. Hal demikian pun terjadi pada perasaan Asty. Kini Asty benar-benar merasakan cinta masa lalunya datang kembali setelah berpisah selama satu tahun.
Kali ini suasana mulai mencair dari sebelumnya yang terasa canggung. Yuni mulai mengangkat suara.
“Hm, ngomong-ngomong gimana kuliahmu Anto?.”
“Alhamdulillah baik. Kamu?”
“Alhamdulillah juga baik.”
“Temanmu mau masuk kuliah dimana?” tanya Anto yang sedikit melihat ke arah Asty yang saat itu dipanggil Shinta sebagai nama rahasianya.
“Dia mau masuk kuliah di UGM,”
“hm… kalau boleh tahu jurusannya apa?”
Spontan saat ditanya jurusan Yuni lupa menanyakan jurusan Asty saat pertama kali Asty nyampe di Jogja. Tak sengaja Yuni langsung berkata jurusan manejemen Asty pun mengangkat suara
“Bukan. Akuntansi!”
Saat itu juga Yuni kaget dan sempat menegur asty agar cepat berhenti berbicara. Kali ini Yuni dan Asty benar-benar mengerjain Anto. Yuni akan membuat kejutan kepada Anto bahwa yang dia bawa sekarang ini adalah Asty, gadis yang selama ini dirindukan Anto. Tak heran Anto mulai kaget saat suara Shinta (dalam hal ini Asty) terdengar. Anto mulai berpikir.
“Sepertinya suara ini aku kenal!”
Tanpa terpikir lagi dan tak mau terus-menerus bersembunyai di balik sapu tangan biru itu, Asty segera melepaskannya. Dan…
“Iya kamu benar, suara ini adalah suara orang yang kamu kenal”
Sungguh betapa kagetnya Anto saat melihat orang yang berada di depannya adalah Asty teman SMAnya dulu. Yuni pun ketawa terbahak-bahak saat melihat wajah Anto yang begitu kagetnya. Akhirnya Asty pun ikut ketawa. Tak lama kemudian Afdal datang dari arah kanan jalan. Dan mereka berempat saling bercerita dan jalan-jalan di sekitar malioboro. Suasana terasa sangat bahagia bagi Asty saat bertemu kembali dengan teman-teman
Cerpen Karangan: Astuti Wally

;;

By :
Free Blog Templates