Minggu, 28 September 2014
Dear Diary..
Waktu begitu cepat berlalu, kenapa begitu cepat sahabat terbaiku pergi?
Apakah ini nasibku? aku harus berdiam diri di kamarku?
Kenapa aku selalu dilanda musibah? apakah aku punya salah?
Aku berharap suatu saat ada yang akan bisa menggantikannya
Agar aku bisa terus tersenyum
Tertanda:
Chelsea Annisa
Akan kuceritakan kejadian yang sangat menyedihkan itu.
Dua jam sebelum kejadian itu, aku dan sahabatku bernama Arin sedang
asyik bermain di taman dekat rumahku, kebetulan 1 minggu ini sedang ada
liburan panjang.
“eh Rin.. dorongin dong ayunannya..” ucapku pada Arin
“nih.. yeayy! asyik ya! gantian dong!” balas Arin sambil mendorong ayunan yang sedang kunaiki itu,
“iya seru.. eh iya besok aku main ya k erumah kamu..” ucapku sambil bermain ayunan
“iya.. tapi turun dong aku pengen naik!” balas Arin agak cemberut
“Arin cantik.. jangan cemberut dong! ha ha ya udah nih aku turun..” balasku sambil tertawa
“huh.. dasar cerewet!” kata Arin sambil duduk di ayunan.
“ya sudah aku mau beli ice cream dulu! kamu mau ngga?” tanyaku pada Arin
“ice cream? mau dong.. rasa coklat ya!” balas Arin tersenyum padaku
“haha ya udah deh bye! aku beli ice cream dulu!” ucapku lalu pergi entah kemana.
5 menit kemudian, aku kembali dan memberikan ice cream rasa coklat
itu pada Arin “nih! kalau udah selesai makan ice cream kita pulang yuk!
sudah sore nih” ucapku sambil memakan ice cream rasa vanilla
kesukaanku..
“Chelsea udah belum? aku udah nih pulang yuk..” kata Arin sambil menaiki sepeda miliknya
“udah nih.. yuk pulang! bye Arin…” balasku sambil mengayuh sepeda yang kunaiki.
Sesampai di rumah aku langsung mandi dan memakai baju berwarna pink
bergambar hello kitty dan celana jeans, seperti biasa sesudah mandi dan
memakai baju aku langsung menonton televisi. kring kring!!! kring
kring!! terdengar suara telepon, sepertinya itu Arin “halo! ini siapa
ya?” tanyaku dalam telepn itu
“hay Chelsea! aku Arin, kamu mau nggak ikut aku naik bus ke taman bermain?” tanya Arin padaku
“eh maaf aku nggak bisa ikut, aku lagi capek habis mandi tadi, rasanya
kakiku kesemutan deh!” balasku langsung menutup telepon tersebut. pasti
Arin bertanya mengapa aku nggak mau ikut..
Keesokan harinya..
Matahari sudah terbit, aku mencoba untuk menonton televisi pagi ini.
yap, itu memang kebiasaan ku setiap bangun pagi dan sesudah mandi, hanya
menonton televisi. aku lihat ada berita kecelakan kemarin sore.
tepatnya pukul 16.30, hah? itu kan waktu Arin naik bus ke taman? aku
juga melihat ada 1 korban yang tewas karena kecelakaan bus yang menabrak
pohon, identitas korban itu mulai terlihat, aku baca namanya.. Arin
Syafira Ananda!!! itu Arin? itu benar Arin kan? Arinn… jangan tinggalkan
aku!
Dengan cepat kuraih sepedaku dan kukayuh sampai ke rumah Arin
ternyata benar! banyak yang melayat disana.. tangisku pun semakin
menjadi jadi, aku tidak mau melihat wajah Arin yang membeku, aku pun
pulang dengan baju basah karena air mataku terus mengalir.
Itulah cerita menyedihkan yang pernah aku alami.. kehilangan sahabat,
aku menyesal tidak mau menerima ajakan Arin waktu itu, Arin adalah
sahabat sejatiku! selamanya… walaupun jauh di mata kita dekat di hati..
Cerpen Karangan: Audrey Safira Krisandari
Label: Persahabatan
Hai aku Magdalena. Aku senang sekali bisa bersahabat dengan Euniqe,
Edenlya, Maria, Zefanya, Vorenza, dan Agnesia. Mereka sangat baik
padaku. Aku bersahabat dengan mereka sejak kelas 1 SD.
Saat pertemuan kelas 1 SD, Vorenza belum ada. Tapi, Aku dan sahabat-sahabat ku yang lainnya mengajaknya untuk saling bersahabat.
Saat duduk di bangku kelas 5 SD, kami banyak sekali pertikaian tapi 2
minggu kemudian kami berbaikan lagi. Malah berjalan-jalan di mall yang
berada di daerah Jakarta Utara.
Suka dan duka selalu kita jalani bersama-sama. Saat adikku yang
paling kecil meninggal karena penyakit, mereka mensupport aku. Selalu
mensupport.
Kejadian lucu yang pernah kami alami adalah ketika kami menganggu
anjing labrador besar berwarna hitam yang ada di dekat rumahku. Kami
dikejar sama anjing itu sampe-sampe manjat ke pagar rumahku. Dan itu
kejadian yang tak pernah kami lupakan.
Saat kelas 6 SD. Kami memutuskan untuk membuat kue bersama. Tapi kami
tidak tau sama sekali apa bahan-bahan kue. Jadi kami langsung memasukan
saja apa bahan kue yang mainstream di acara televisi.
Setelah selesai membuat kue nya, bukan nya kami panggang tapi malah
kami goreng. Memang, ada hasilnya dan rasanya enak. Tapi, setelah itu
kami langsung sakit perut dan berebutan untuk ke kamar mandi.
Hahaha kejadian yang lucu kan?
Tapi semuanya berubah saat aku pindah ke Jawa…
Semua itu berubah. Aku tak tega melihat mereka menangis atas kepergianku yang membuat jarak di antara persahabatan kita.
Euniqe, Edenlya, Maria, Zefanya, Vorenza, Tiana.
Aku pasti akan merindukan kalian…
pasti…
Aku akan balik
Dan bertemu kalian lagi.
Andai waktu bisa kuputar. Kita akan bermain bersama lagi, ya?
Cerpen Karangan: Akane Amagawa
Blog: https://galaxy-knight.tumblr.com
Hallo semua! terima kasih ya yang udah baca cerpen saya.
Perkenalkan, nama asli aku Agnetha Magdalena Gunena. Aku sekarang
bersekolah di SMP Santa Maria Cirebon. Salah satu murid kelas 8E tahun
ini (2013)
Aku itu suka banget online di depan laptop sama gadget, aku juga suka
buat cerita fanfiction dengan tokoh anime. Aku suka banget sama
anime-anime, tapi bukan berarti kalo aku suka kartun Jepang itu, aku
tidak senang sama negara sendiri.
Malah aku bangga sama negara ku ini yang mempunyai banyak tradisi dan
budaya. Sekali lagi terima kasih yang udah mau baca cerpen pertama ku
ini. Semoga kalian suka ya ! :) ohya kalo mau mampir ke fanfic ku boleh
kok kalian buka https://www.fanfiction.net/u/5347983/
Salam,
Agnetha
Label: Persahabatan
Bulan Juli tahun 2011 Asty berangkat ke Yogyakarta guna untuk
melanjutkan kuliah S1. Tiba disana dia disambut hangat oleh sahabatnya
Yuni yang juga kuliah s1. Walau berasal dari kota yang jauh yaitu kota
Ambon, Asty tidak pernah merasa kesepian, karena dia masih menganggap
Yuni sebagai keluarganya sendiri. Bahkan bukan hanya Yuni yang belajar
di Jogja, akan tetapi beberapa teman SMAnya dulu juga demikian. Ada
Afdal, Nani, Ida, Andi, Anto dan Ide.
Hari kedua Asty diajak Yuni bermalam ke kost nya. Hm.. mereka
menghabiskan pertemuan dengan bercanda, cerita masa-masa SMA, serta
pengalaman tiba di Jogja dll. Hingga Yuni membuat keputusan untuk bisa
bertemu dengan teman-teman yang ada di Jogja. Di sms lah Afdal, Anto,
nani, Andi, Ide, dan Ida. Hanya saja yang bisa hadir Anto dan Afdal.
Sedangkan Nani, Andi, Ida, dan Ide mereka gak hadir. Asty dan Yuni
membuat janji dengan mereka untuk bertemu di Malioboro jam 10 pagi. Bagi
Asty inilah pertemuan yang sudah ditunggu-tunggu satu tahun yang lalu.
Bahkan sampai malam tiba Asty masih tetap terjaga dalam tidurnya.
Adzan berkumandang dari sebelah kost Yuni.
“Kamu mau kemana?” tanya Yuni pada Asty dengan matanya yang masih sayup.
“Aku mau ke belakang sebentar. Bersih-bersih dan berwudhu.” Jawab Asty dengan wajah yang juga menunjukkan keadaan ngantuk.
“Allahu Akbar…” terdengar suara lembut dan halus yang keluar dari bibir
Asty. Yang walaupun hanya terdengan pelan, tapi karena suasana waktu itu
sangat adem dan tenang, seakan kencang dengarnya.
“suara apa itu!” bisik Asty dalam hati.
“Yuni! kok aku mendengar suara Iqomah, ini kan masih jam 4 kurang lima menit!.”
“Emangnya tadi kamu sholat apa Asty?” Yuni malah balik bertanya.
“Tahajjud!”
“ya ampun, Asty… Asty…, tadi itu adzan Shubuh. Ini bukan Ambon lagi yang adzan shubuhnya jam 5! Hahaha.”
Mendengar hal tersebut Asty malah ketawa dan merasa malu sendiri.
Akhirnya mereka berdua ketawa sedikit terbahAk-bahak. Sampai-sampai
tetangga kamar kost Yuni ada yang terbangun.
“hm.. pantas saja kamu malah enakkan tidur! Apalagi karena kamu lagi gak sholat”
Asty jadi agak sebel.
Pagi yang cerah terlihat begitu jelas ketika burung-burung
beterbangan di angkasa. Daun-daun yang begitu indah terlihat dari
keelokan warna hijaunnya. Tiba saatnya pemberangkatan menuju tempat
perjanjian Asty, Yuni dengan Afdal serta Ris. Karena Yuni tidak memiliki
kendaraan pribadi, maka mereka mau tidak mau harus naik bus. Manakala
saat bus tersebut berjalan, Asty tidak menyangka jalannya yang lambat,
penuh sesak para penumpang. Sampai-sampai ada yang berdiri. Untung saja
Asty dan Yuni masih bisa dapat tempat duduk. Melihat keadaan dalam bus
seperti itu, Yuni hampir tak tahan ketawanya manakala melihat wajah Asty
yang agak cemberut.
“As, wajahmu tu senyum sedikit kenapa!”
“emangnya ada apa dengan wajahku Yuni?”
Asty malah balik bertanya.
“Kamu gak sadar, dari tadi tu wajahmu cemberut melulu,” sambil ketawa
Yuni mengangkat tangannya dan menunjuk ke arah seorang Ibu yang berada
tidak jauh dari tempat duduk mereka berdua.
“Lihat Ibu yang itu. Beliau walaupun tidak dapat tempat duduk, masih
sempatkan diri untuk bisa tersenyum. Kamu yang sudah mendapat tempat
duduk malah cemberut gitu. Ini bukan Ambon lagi, Sekarang ini, saatnya
kita untuk berjuang melawan keras maupun senanngnya hidup yang ada di
kota perantuan ini.”
Mendengar penjelasan dari Yuni seakan Asty baru diingatin kembali menganai tujuannya untuk datang ke kota Jogja.
“iya Yun, kamu benar. Seharusnya aku bersabar.”
“ok. Sekarnag bersiaplah kita sudah mau nyampe!”
Setelah turun dari bus, dari arah jauh Yuni dan Asty melihat di depan malioboro sosok seorang pria yang dikenal.
Segera Asty mempersiapkan aksinya.
“ayo kita jalan keseberang sana.” Ajak Yuni saat menunjuk ke arah Anto.
“bentar Yun,” tak salah lagi Asty menyiapkan sarung tangannya berwarna
biru dan ditutupi di wajahnya. Seperti masker yang biasa dipakai orang.
Asty sengaja tidak menampakkan wajahnya. Bahkan dia sengaja agar Anto tidak tahu kalau dialah yang di ajak Yuni.
“Hai… Anto!” sapa Yuni yang saat itu mengagetkan Anto.
“Hai kamu, Yuni. Wa… sudah lama kita berada di jogja tapi belum pernah ketemu,”
“iya, kamu ni ya gak pernah ada kabarnya. Untung semalam aku sempat sms untuk bertemu!. Ngomong-ngomong Afdal kemana ya?”
“iya tu belum datang.”
Sambil asyik ngobrol dan mereka pun duduk di bawah pohon rindang.
“ini temanmu?” tanya Anto kepada Yuni yang seketika itu membuat Asty kaget.
“oh iya ma’af aku lupa memperkenalkannya padamu. Ini temanku Shinta.”
Betapa kagetnya Asty saat memperkenalkan dirinya. Akan tetapi dia tidak
mengeluarkan suara. Dengan pandangan yang aneh Anto terus memandang Asty
dari arah sebelah duduknya Yuni. Asty pun demikian. Tanpa tak
dipikirkan saat pandangan mereka saling bertemu. Di balik wajah Asty
yang tertutup sapu tangan itu, membuat Anto jadi penasaran. Sehingga
dalam hati Anto berkata dan merasakan hal yang aneh pada mata gadis yang
berada di samping temannya Yuni. Hal demikian pun terjadi pada perasaan
Asty. Kini Asty benar-benar merasakan cinta masa lalunya datang kembali
setelah berpisah selama satu tahun.
Kali ini suasana mulai mencair dari sebelumnya yang terasa canggung. Yuni mulai mengangkat suara.
“Hm, ngomong-ngomong gimana kuliahmu Anto?.”
“Alhamdulillah baik. Kamu?”
“Alhamdulillah juga baik.”
“Temanmu mau masuk kuliah dimana?” tanya Anto yang sedikit melihat ke
arah Asty yang saat itu dipanggil Shinta sebagai nama rahasianya.
“Dia mau masuk kuliah di UGM,”
“hm… kalau boleh tahu jurusannya apa?”
Spontan saat ditanya jurusan Yuni lupa menanyakan jurusan Asty saat
pertama kali Asty nyampe di Jogja. Tak sengaja Yuni langsung berkata
jurusan manejemen Asty pun mengangkat suara
“Bukan. Akuntansi!”
Saat itu juga Yuni kaget dan sempat menegur asty agar cepat berhenti
berbicara. Kali ini Yuni dan Asty benar-benar mengerjain Anto. Yuni akan
membuat kejutan kepada Anto bahwa yang dia bawa sekarang ini adalah
Asty, gadis yang selama ini dirindukan Anto. Tak heran Anto mulai kaget
saat suara Shinta (dalam hal ini Asty) terdengar. Anto mulai berpikir.
“Sepertinya suara ini aku kenal!”
Tanpa terpikir lagi dan tak mau terus-menerus bersembunyai di balik sapu tangan biru itu, Asty segera melepaskannya. Dan…
“Iya kamu benar, suara ini adalah suara orang yang kamu kenal”
Sungguh betapa kagetnya Anto saat melihat orang yang berada di depannya
adalah Asty teman SMAnya dulu. Yuni pun ketawa terbahak-bahak saat
melihat wajah Anto yang begitu kagetnya. Akhirnya Asty pun ikut ketawa.
Tak lama kemudian Afdal datang dari arah kanan jalan. Dan mereka
berempat saling bercerita dan jalan-jalan di sekitar malioboro. Suasana
terasa sangat bahagia bagi Asty saat bertemu kembali dengan teman-teman
Cerpen Karangan: Astuti Wally
Label: Persahabatan

